Universitas Ibnu Chaldun

Stop Eksploitasi Atas Nama Anak Yatim




Ramadhan dan Muharram seringkali menjadi momen mengeksploitasi anak yang berkebutuhan pendampingan. Anak-anak hebat itu dirubahnya menjadi boneka pencari uang, yang diletakkan dengan manis pada etalase acara santunan yang mengenaskan.

Ini bukan soal mengajak orang peduli pada anak, tapi soal pemberangusan mentalitas, sehingga sebagian mereka masuk pada zona nyaman penerima santunan. Siapa yang telah memulai kezaliman terstruktur ini?

Seharusnya, lembaga-lembaga pendampingan anak, harus menyelami hal ini dan bukan menjadikannya sebagai “kapital” untuk meraup profit. Gerakan pendampingan dan peduli anak sudah selayaknya didudukkan pada pendampingan yang sesungguhnya.

Kenapa? Biar nggak ada lagi berlindung di balik dalil agama, lalu mulai membedakan status perhatian kita kepada anak.  Anak yatim lebih mulia ketimbang si miskin yg terpinggirkan. Ini perlu kredo yang jelas. Anak-anak yang berkebutuhan pendampingan jangan disempitkan hanya pada sekedar label “yatim”, karena terminologi yatim sendiri merupakan kondisi ketiadaan pendampingan sehingga si anak menjadi beringas dan bodoh.

“Bukanlah si yatim itu yang tidak memiliki ayah. Yatim itu mereka yang tidak memiliki ilmu dan adab”

Ini bisa menjadi kredo yang lebih luas dalam dunia pendampingan anak. Siapa yang harus bertanggung jawab kepada ratusan anak miskin dan atau dimiskinkan, anak yatim dan yang diyatimkan oleh keadaan? Sehingga mereka tak mendapat pendampingan yang layak?

Kenapa juga kata santunan yatim harus dilembagakan dalam ceremoni baku yang tidak memberdayakan, bahkan cenderung memajang anak-anak dalam barisan penerima bingkisan di atas panggung kejumawaan sang penyumbang.


Mereka Nggak Butuh Amplop, Tapi..

Perlu kesadaran baru untuk merubah image buruk santunan ini. Sebab, pada dasarnya, anak-anak itu tidak butuh belas kasihan dalam penampilan kesalehan berkedok santunan. Yang mereka butuhkan justru pendampingan khas anak, mulai dari sekedar hak bermain, bercanda, ceria, bahagia, tertawa dan pembentukan mentalitas yang gagah sejak dini.

Berangkat dari gagasan ini, Istana Yatim Nurul Mukhlisin mengampanyekan gerakan “jangan santuni kami”. Saya ingin mengatakan bahwa mereka adalah anak-anak hebat, yang layak mendapat hadiah itu karena mereka berprestasi, bukan karena “kondisi lemah” mereka.

Mohon gagasan ini difahami dalam bingkai “penguatan” mereka. Karena saat Anda menyantuni, justru melemahkan kondisi psikis mereka. Sebab, secara tidak langsung tengah membentuk mentalitas “payah” yang senang menerima. Itu mengapa tgl 10 Muharram yang sering disebut lebaran anak yatim benar-benar menjadi momentum yang ditunggu-tunggu.


Sejauh Mana Eksploitasinya?

Sebelum Istana Yatim berdiri, 30-an anak yatim telah setahun kami asuh di Griya Yatim Jatiasih dan betapa terkejutnya kami saat di tanggal 10 Muharram, mereka keliling dari pagi sampai malam karena undangan santunan yang tiada henti.

Bahkan disepakati atau tidak, ibu-ibu mereka mengamini fenomena ini. Sudah terlalu sering, pada saat pembagian santunan, bila anak yatimnya tidak datang, pasti beberapa ibu datang mewakili anaknya.

Saat mengisi tausiyah di sebuah daerah di Sulawesi Selatan, ketika saya berbicara soal pentingnya memberdayakan anak2 yatim dan yang diyatimkan, sebagian tokoh Aghniya di daerah tersebut berdiskusi dengan saya, bahwa di tempatnya sudah lazim yang namanya anak2 yatim hanya dieksploitasi untuk kepentingan mencari uang bagi pengasuhnya”, astaghfirullah al-’azhim, wal ‘iyadzu billah, semoga kita terhindar dari praktek semacam itu.

Saya juga pernah menerima panitia santunan yang keliling menggunakan mobil ke kampung-kampung untuk meminta santunan, saya berbincang panjang dengan panitia tersebut, dia menuturkan bahwa praktek ini dilakukan cukup lama dan berpenghasilan lumayan sekitar 500 ribuan per hari.

Tapi ketika saya tanya ada berapa anak yang diasuh dan apakah mereka disekolahkan, dia menjawab ada 17 anak dan tak satupun yang sekolah, mereka hanya belajar ngaji. Berikutnya saya tanya lagi soal alamat, tapi ia enggan memberikannya, saat saya tanya nomor telepon pengasuhnya, ia bilang pengasuh tidak punya nomor telepon, saya menjanjikan akan memberikan beasiswa kepada anak-anak yatimnya, tapi ia menghindar terus dan segera mohon pamit. Dengan berbagai kedok dan alasan, yatim seringkali dieksploitasi dengan cara-cara mengenaskan.


Istana Yatim Berani Beda

Maka, sekali lagi “Istana Yatim Nurul Mukhlisin” sedang bergerak menuju pelembagaan Pesantren Motivasi Indonesia yang tidak hanya menerima yatim, tapi juga anak-anak Indonesia yang diyatimkan oleh keadaan: anak-anak terlantar, anak-anak miskin, anak-anak korban kekerasan, anak-anak jalanan dan siapapun anak Indonesia pada rentang usia 7-18 tahun yang berkebutuhan pendampingan.

Sehingga Pesantren Motivasi Indonesia ini hadir benar-benar sebagai ikhtiyar memberikan solusi pendidikan yang bagus bagi kalangan masyarakat miskin. Seluruhnya full beasiswa, mulai dari makan sampai pendidikan.

Catatan: ENHA, Pengasuh Pesantren Motivasi Indonesia (PMI) Istana Yatim Nurul Mukhlisin, Setu, Bekasi


Editor: Awan Ibnu Chaldun

Berita Terbaru

Kirim Pesan Ke Humas

Nama

Email

Pesan

Alamat Kampus

Universitas Ibnu Chaldun - Jl.Pemuda I Kav.97, Rawamangun, Jakarta Timur - 13220, PO Box 1224

Kontak Humas

E-Mail: humas@ibnuchaldun.ac.id
Telp: (021)-4722059, Fax: (021)-4702563
SMS & Call Center: (021) 978 42 123
BBM Humas: 326C475C

Lihat Peta Kampus