Universitas Ibnu Chaldun

From Solo to Hero

Terlahir dari keluarga petani dan guru SD, tidak membuat H. Edy Haryanto patah semangat mengarungi kerasnya hidup. Karakter pekerja keras, jujur, dan mudah bergaul, seolah mengamini ayat-ayat pembaharuan, The Spirit of Java.

Gaya bicaranya taktis, filosofi hidupnya visioner, namun tetap dalam kerangka kesederhanaan. Itu semua membuat bapak kelahiran Sukoharjo, Jawa Tengah, 31 Oktober 1971 ini, menginspirasi banyak orang untuk bisa menjadi entrepreneur muda.

Captive market wirausaha sangat besar di Indonesia. Terlebih, kecenderungan banyak orang memilih hidup nyaman di “zona-nya”. Ini juga salah satu misi pendidikan di Universitas Ibnu Chaldun, mencetak entrepreneur muda dipelbagai bidang yang nggak takut ambil resiko,” kata Edi Haryanto, Ketua Umum Yayasan Pembina Pendidikan Ibnu Chaldun (YPPIC) Jakarta, kepada Kavling 97 Magazine.




Pemilik PT. Bintang Surya Abadi yang membawahi tujuh anak perusahaan di dalamnya ini mengaku, benang merah keberkahan hidupnya juga karena keputusannya memilih jalur beda dengan berwirausaha. “Berwirausaha adalah seni mengolah diri dan menjual semua potensi yang dimiliki. Setelah melakukan apa yang harus dilakukan dalam berbisnis yaitu jujur, ulet dan sabar, pasrah menjadi semacam ‘kunci utamanya’,” jelasnya santai.


Jadi ‘Preman’ Tapi Jauh dari Kata Serem

Bapak yang akrab disapa Bang Haji ini adalah lulusan Sekolah Analisis Kesehatan (setingkat SMK) di Solo tahun 1990/1991-an. Setelah lulus, kemudian mengadu nasib di Jakarta tahun 1991 dan tidak lama kemudian mendapatkan pekerjaan sebagai tenaga analisis laboratorium di salah satu perusahaan farmasi Jakarta.

Setahun bekerja, semangat  berbaginya tidak terbatas kalangan dan jabatan.  Putra ke-empat dari enam bersaudara ini merambah pergaulan lain, merangkul dan membina dunia ’premanisme’ menjadi lebih baik (baca: lebih bermoral).

Padahal kalau bicara penampilan dan fisik, alumni Fakultas Hukum Universitas Ibnu Chaldun (UIC) Jakarta ini jauh dari kata serem. “Setiap orang pasti memiliki masa lalu. Prinsipnya siapa yang menanam kebaikan pasti tumbuhnya kebaikan,” ungkap Edi, yang kini dipercaya menjadi Ketua beberapa Ormas (organisasi masyarakat), pengurus teras Pajero Sport Family (PSF) dan LPNU, Dewan Pembina Komunitas Intra Seluler Indonesia (KISI), pengurus Forum Komunikasi Da’i Muda Indonesia dan lainnya.


Berguru Pada Pak Tirto Utomo (owner perusahaan minuman kemasan merek Aqua)

Tahun 1993 menjadi titik terang bagi Edi. Sebab, di tahun itu statusnya sebagai tenaga medis perusahaan memudahkannya bergaul dengan semua orang, salah satunya Pak Tirto Utomo, owner minuman kemasan merk Aqua.

Dalam bekerja, Edi mengaku, totalitas dan loyalitas menjadi kunci utama kemajuan karirnya. Dua hal tersebut membuat chemystri antara ’guru dan murid’ itu semakin jadi.

“Bagi saya Pak Tirto sudah seperi ayah yang turut serta memberikan warna dalam bisnis saya. Yang selalu saya ingat adalah motivasinya, ’Jangan pernah takut untuk berpindah dari jalur, meski jauh dari kemampuan dan jangan pernah takut untuk menjadi beda’. Kata-kata itu selalu saya ingat,” ungkap Edi.

Yes! Bagaimanapun wirausaha juga muda butuh pendampingan. Ada mentor yang memberikan masukan penting agar yang salah tidak menjadi kaprah, yang benar teap di rel-nya. Memasuki tahun 1997, berbekal pengalaman yang ada, suami dari Hj. Ida Aqidah ini memutuskan berhenti kerja untuk memulai usaha sendiri.


Keberuntungan Selalu Berpihak Pada Yang Berani

Usaha pertama yang digelutinya adalah menjual berbagai alat-alat kesehatan di mal-mal. Awalnya hanya satu-dua konter, karena keuletannya, usahanya kian berkembang dan mulai membuka toko sendiri di bilangan Jalan Pramuka, Jakarta. Saat itu, luas toko 2x4 meter, menjadi semacam titik lepas landasnya menuju arena bisnis yang lebih besar lagi.

“Jatuh bangun sat merintis itu hal wajar. Wirausahawan perlu waktu minimal tiga tahun berdarah-darah dengan usahanya,” papar bapak dari Rakyan Zahid Pramoedya Ananta Haryanto (12) dan Safira Prameswari Ananta Haryanto (11).

Usaha baru seumur jagung, badai gelombang krisis moneter 1998 menerpa. Jangankan perusahaan kecil, perusahaan besar pun banyak yang gulung tikar. Namun, ternyata Allah SWT berkehendak lain. Filosofi Keberuntungan adalah milik orang-orang yang berani, tidaklah salah.

“Saat terjadi krisis ekonomi hebat. Alhamdulillah-nya, jauh hari saya sudah stok barang dagangan. Padahal ini sesuatu yang paling ditakutkan banyak pemain. Tapi intuisi saya berbicara lain, justru dari situ, dagangan kami tidak terlalu keteteran  melayani permintaan langganan. Hasilnya, berkah dari krisis tersebut, usaha yang saya jalani makin berkembang,” terangnya.

So far so good! Ini namanya faktor ’x’. Keberuntungan juga datang karena Tuhan punya rencana lain, setelah bekerja dengan hebat, berdo’a dengan dahsyat dan pasrah di atas rata-rata umum. Kini, PT. Bintang Surya miliknya, sukses mengambangkan sayapnya dan menaungi beberapa usaha seperti, peternakan sapi, kambing, ikan di Bogor dan Purwakarta, kebun kopi di Bogor, sekolah Inter Indonesia Montersery (TK dan SD) di Jakarta, rumah sakit di Cikarang, Mitra Medika (klinik) di delapan tempat, pertambangan dan beberapa unit usaha distributor ekspor dan impor serta lainnya lagi.


Filosofi Entrepreneur

Bicara filosofi berwirausaha, menurut Edi -yang juga berposisi sebagai Redaktur Eksekutif Majalah Kavling 97, berbagi resep. Ada tiga hal yang selama ini ia yakini mampu merengkuh kesuksesan. Pertama adalah feelling.  Feel di sini berarti seorang wirausaha harus peka dan mampu merasakan apa yang terjadi saat ini. Jadi bukan hanya kejar setoran semata (money oriented) tanpa mengindahkan yang lainnya.

“Saya pernah buka usaha tambang pasir. Bicara keuntungan omzet perhari sangat menggiurkan. Tapi usaha tersebut bertentangan dengan konsep keseimbangan alam, karena eksploitasi. Jadi saya hentikan usaha itu. Feel ini disebut juga intuisi untuk menghargai keseimbangan alam,” jelasnya.

Yang kedua adalah matematis. Menurutnya seorang wirausaha harus mampu menghitung secara matematis untung dan ruginya. “Keuntungan tidak melulu finansial saja. Ada keuntungan jangka panjang dan ada juga keuntungan relasi. Prinsipnya harus berfikir secara matematis secara cepat dan tepat,” terangnya.

Yang ketiga adalah mampu mengolah kesempatan hingga goal (hasil). Menurutnya, unsur yang ketiga ini cukup fital. Polanya adalah mengkaitkan faktor feeling, keseimbangan alam dan lingkungan, matematis dan kepasrahan ketika semua usaha sudah dijalankan.

“Jika banyak orang mengatakan kesempatan itu datang hanya sekali saja, menurut saya, no! Kesempatan justru datang berulang kali. Misal, pada kesempatan pertama kita menolak tawaran bisnis yang menurut kita tidak cocok dengan semua unsur tadi. Karena bicaranya atas nama hati, InsyaAllah ada kesempatan kedua yang jauh lebih baik lagi”. Tutup  H. Edi.


Profil H. Edi Haryanto S.H, oleh : Awan SB

Berita Terbaru

Kirim Pesan Ke Humas

Nama

Email

Pesan

Alamat Kampus

Universitas Ibnu Chaldun - Jl.Pemuda I Kav.97, Rawamangun, Jakarta Timur - 13220, PO Box 1224

Kontak Humas

E-Mail: humas@ibnuchaldun.ac.id
Telp: (021)-4722059, Fax: (021)-4702563
SMS & Call Center: (021) 978 42 123
BBM Humas: 326C475C

Lihat Peta Kampus