Universitas Ibnu Chaldun

Teknik Merusak Pola dan Filosofi Entrepreneur


Teknik Merusak Pola dan Filosofi Entrepreneur

Teknik merusak pola hanya bisa dilakukan oleh orang yang nyata-nyata tidak suka dengan comfort zone. Wirausaha muda misalnya, perlu lebih dari sekedar mental untuk bisa eksis. Karena teknik merusak pola juga harus diikuti dengan loyalitas. Ya, loyalitas dengan pilihannya berwirausaha.

Pengalaman ini diamini oleh wirausaha muda, Edi Haryanto. Pemilik PT Bintang Surya Abadi yang membawahi tujuh anak perusahaan ini mengaku, perlu keberanian lebih dahsyat untuk turun ke dunia wirausaha. ”Tetapkan garis pembeda, rusak pola (kebiasaan) setelah itu lagsung action jadi kunci utama calon wirausahawan,” kata Edi, dikutip dari Cover Story Kavling 97 Magz

Yes! Action jadi ujung tombak semua rencana panjang dengan berbagai pertimbangannya. Namun, setelah terjun ke dunia wirausaha, supremasi proses  juga tidak bisa diabaikan. Soal waktu dan volume masalah, tergantung dengan besar kecilnya usaha yang dijalankan. Edi menuturkan, setidaknya pengusaha muda perlu waktu tiga tahun untuk jenjang merintisnya.

“Wirausahawan perlu waktu minimal tiga tahun berdarah-darah dengan usahanya,” jelas bapak dari Rakyan Zahid Pramoedya Ananta Haryanto dan Safira Prameswari Ananta Haryanto itu.

Filosofi Entrepreneur

Bicara filosofi berwirausaha, menurut pengusaha muda yang kini menekuni berbagai bisnis seperti peternakan sapi, kambing, ikan di Bogor dan Purwakarta, kebun kopi di Bogor, sekolah Inter Indonesia Montersery (TK dan SD) di Jakarta, rumah sakit di Cikarang, Mitra Medika (klinik) di delapan tempat, pertambangan dan beberapa unit usaha distributor ekspor dan impor serta lainnya lagi itu menuturkan, ada tiga hal yang selama ini ia yakini mampu merengkuh kesuksesan.

Pertama, feelling.  Feel di sini berarti seorang wirausaha harus peka dan mampu merasakan apa yang terjadi saat ini. Jadi bukan hanya ’kejar setoran’ semata tanpa mengindahkan yang lainnya (money oriented).

“Saya pernah buka usaha tambang pasir. Bicara keuntungan omzet perhari sangat menggiurkan. Tapi usaha tersebut bertentangan dengan jiwa saya, karena ini adalah eksploitasi alam. Jadi saya hentikan usaha tersebut,” jelasnya.

Kedua, matematis. Seorang wirausaha harus mampu menghitung secara matematis untung dan ruginya. “Keuntungan tidak melulu finansial saja. Ada keuntungan jangka panjang dan ada juga keuntungan relasi. Prinsipnya berfikir secara matematis secara cepat dan tepat,” terangnya.

Yang ketiga, mampu mengolah kesempatan hingga goal (hasil). Menurutnya unsur yang ketiga ini cukup fital, hanya saja dalam penjabarannya Edi memiliki cara tersendiri dengan unsur ketiganya ini.

“Jika banyak orang mengatakan kesempatan itu datang hanya sekali saja, tapi menurut saya kesempatan justru datang berulang kali. Misal, pada kesempatan pertama kita menolak tawaran bisnis yang menurut kita tidak cocok dengan feel kita. Karena bicaranya atas nama hati, InsyaAllah ada kesempatan kedua yang jauh lebih baik lagi”. Tutupnya.

Teks dan Foto: Awan

Berita Terbaru

Kirim Pesan Ke Humas

Nama

Email

Pesan

Alamat Kampus

Universitas Ibnu Chaldun - Jl.Pemuda I Kav.97, Rawamangun, Jakarta Timur - 13220, PO Box 1224

Kontak Humas

E-Mail: humas@ibnuchaldun.ac.id
Telp: (021)-4722059, Fax: (021)-4702563
SMS & Call Center: (021) 978 42 123
BBM Humas: 326C475C

Lihat Peta Kampus