Universitas Ibnu Chaldun

Pengabdian di Ujung Senja

Profil Engkong Suhendar

Rambutnya yang sudah memutih, tidak membuat semangatnya redup di telan usia. Tangannya masih terlihat gesit memainkan “senjata” membersihkan tiap sudut ruang kampus. Ohendar (64) atau yang akrab disapa “engkong” tersenyum ramah kepada Dosen ataupun Mahasiswa yang sesekali berlalu lalang keluar-masuk ruang belajar.

Dua puluh tiga tahun sudah engkong mengabdi di Universitas Ibnu Chaldun (UIC) Jakarta, sebagai petugas kebersihan. Wajahnya memang sudah tak asing lagi di kampus. Terkadang Dosen atau mahasiswa tidak segan meminta bantuannya. “Ada yang minta fotocopy, pesen minuman di kantin, atau lainnya” ujar bapak berambut putih ini.

Meski statusnya tukang bersih-bersih, Engkong Suhendar bukan tukang bersih-bersih biasa. Sebab, dunia Perguruan Tinggi khususnya UIC Jakarta sudah banyak yang ia ketahui. Ia bahkan tahu prosedur Penerimaan Mahasiswa baru (PMB), hubungan kerja antar civitas akademika dan hal-hal lainnya yang menyangkut dunia pendidikan perguruan tinggi. Semua pengetahuannya ini, bukti ia bukan tukang bersih-bersih biasa.

Sebelum bekerja di UIC Jakarta, pada mulanya Engkong Suhendar bekerja serabutan di Karawang daerah asalnya. Lalu tahun 1987, bapak tiga anak ini mulai bekerja di kampus yang terletak di Jalan Pemuda ini. “ Dari upah Rp. 45 ribu ampe sekarang Rp. 1 jutaan lebih,  sudah saya jalanin,” cerita lelaki dengan sederet gigi yang sudah tidak utuh itu.

Namun, penuh syukur suami dari Ibu Eis Atik ini menjalani pekerjaannya. Engkong menambahkan, setiap hari Jum’at mendapat duit 25 ribu atas jasa membersihkan masjid kampus.“ Dosen sama mahasiswa ada juga yang ngasih, Alhamdulillah banyak rizki saya di sini,” ujarnya. Walau penghasilan yang didapat belum membuat makmur, tapi dia selalu bersyukur, jauh beda dengan banyak oknum pejabat yang tak pernah puas mengumpulkan pundi-pundi uang memperkaya diri.

Tak jauh dari kampus, engkong mengontrak rumah. Suntikan dana dari dua anaknya yang sudah bekerja, meringankan beban untuk membayar sewa rumahnya seharga tujuh juta pertahun. Sebab, di luar itu masih ada yang masih membutuhkan biaya, yaitu putri terakhirnya yang baru lulus dari Sekolah Menengah Umum (SMU). “Yang pasti harus pintar-pintar mengatur keuangan,” tambah engkong sambil meletakkan sapu.

Dulu, ketika situasi kampus sedang kritis, pernah engkong tidak mendapat Tunjangan Hari Raya (THR). Namun, rasa cinta terhadap kampus tidak pernah surut. Namun upaya setianya selama ini, kini berbuah manis. Karena UIC Jakarta sekarang sedang membangun kemajuan kampus di bawah management Yayasan Pembina Pendidikan Ibnu Chaldun (YPPIC) Jakarta.  “Sekarang kampus udah mulai bebenah, Alhamdulillah gaji sudah mulai tertib di bayar. Semoga saja mahasiswa tambah banyak yang masuk,” harap pria penggemar sepakbola itu.

“Lumayan santai kerja di sini, justru kalau sudah libur semester, saya malah kesepian” ungkapnya. Tanpa di sadari, melalui bantuan dan keikhlasan Engkong Suhendar mengabdi, kondisi ruang kelas semakin bersih dan membuat peserta didik merasa nyaman untuk belajar. Dengan begitu dia ikut pula berperan sebagai elemen pendukung. Semoga do’anya diusianya yang semakin senja yang mengharapkan UIC jauh lebih maju lagi, dikabulkan Allah SWT . Amin.


Terimakasih Engkong Suhendar, atas pengabdianmu selama ini.




Teks: Supri 
Foto: Awan

Berita Terbaru

Kirim Pesan Ke Humas

Nama

Email

Pesan

Alamat Kampus

Universitas Ibnu Chaldun - Jl.Pemuda I Kav.97, Rawamangun, Jakarta Timur - 13220, PO Box 1224

Kontak Humas

E-Mail: humas@ibnuchaldun.ac.id
Telp: (021)-4722059, Fax: (021)-4702563
SMS & Call Center: (021) 978 42 123
BBM Humas: 326C475C

Lihat Peta Kampus