Universitas Ibnu Chaldun

Menjadi Guru yang Siap Diturut dan Ditiru

Esensi Seminar Pendidikan Substansi dan Strategi Pendidikan Karakter Bagi Bangsa Indonesia-Part 1




Istilah guru-digugu lan ditiru (Sikap dan perkataanya dipercaya dan dicontoh) menjadi istilah yang kian ditinggalkan dan terus ditinggalkan oleh murid bahkan oleh gurunya sendiri. Murid lebih percaya dan meniru apa yang dilalukan oleh tokoh idolanya (artis), tidak perduli salah atau benar. Sebenarnya apa sih yang melatar belakangi ini semua?

Dalam seminar pendidikan bertajuk Substansi dan Strategi Pendidikan Karakter Bagi Bangsa Indonesia, Prof. DR. H. Qomari Anwar, MA, Rektor Universitas Ibnu Chaldun-Jakarta menjelaskan, ada beberapa sumber realita sosial yang melatarbelakangi seorang anak tidak takut teguran yang baik dari orangtuanya. Atau murid yang enggan mengidolakan guru sebagai profil yang layak dicontoh. Menurutnya, realita sosial tersebut antara lain:

1. Saat pembentukan usia dini, anak-anak banyak diserahkan kepada pembantu. Hal ini jelas berpengaruh besar terhadap tumbuh kembang mental serta kepribadian anak. Setiap hari si anak tumbuh kembang dengan seseorang yang tidak dikenalnya secara mendalam.

2. Lepas usia anak-anak, berarti mulai berangkat usia remaja. Di usia inilah segala rasa penasaran terus mengkristal lebih jauh menjadi rasa ingin tahu dengan mencobanya. Sayang, kondisi ini diperburuk dengan lingkungan masyarakat yang tidak kondusif.

3. Menginjak usia dewasa, semua kesalahan yang terbentuk sejak usia dini itu terakumulasi dan melebur menjadi sifat bagi seseorang. Padahal dalam suatu masyarakat, ada puluhan hingga ribuan manusia yang seperti itu, maka terbentuklah Low Trust Society atau lazim di sebut masyarakat yang kurang perduli terhadap hukum.

“Semua berakar dari pendidikan orang tua sejak usia dini. Sama saja halnya dengan istilah siapa yang menanam kebaikan pasti akan berbuah kebaikan juga. Jika sejak usia dini orang tua yang mendidik secara langsung dengan baik-baik, maka saat beranjak remaja orang tua akan lebih bisa mengkontrol anaknya. Dengan begitu saat dewasa nanti, si anak yang berubah menjadi seseorang itu akan menjadi pribadi-pribadi yang tahu aturan, baik agama maupun hukum yang berlaku” kata Pak Qomari, yang juga menjabat sebagai Ketua Komisi Pendidikan MUI (Majelis Ulama Indonesia) Pusat, periode 2010-2015.

Tidak hanya orangtua dan anaknya saja yang terlibat kesalahan secara sistematis, yang berujung pada rusaknya mental dan karakter anak. Realita berikutnya berasal dari pengajar (guru) yang tidak ber-akhlakul karimah dan tidak kompetensi.  Beberapa kriteria tersebut antara lain:

  1. Pendidik mempunyai mental “semu” alias senang basa-basi dan budaya asal bos senang (ABS).

  2. Pendidik tidak sincere (ikhlas), tidak tulus dan tidak sungguh-sungguh untuk memajukan dunia pendidikan.

  3. Akibatnya, data yang dikumpulkan tidak akurat yang melahirkan kebijakan yang tidak akurat dan tidak relevan.

“Jadi itu semua saling berkaitan satu sama lain” jelas Pak Qomari. “Selama dimensi karakter tidak menjadi kriteria keberhasilan dunia pendidikan, selama itu pula pendidikan tidak akan berkontribusi banyak dalam pembangunan bangsa. Untuk itulah perlunya pendidik berkarakter yang mampu menghasilkan SDM handal dan memiliki jati diri. Oleh sebab itu, milikilah jati diri dan jadilah pendidik yang ber-akhlak, berkarakter kuat, dan cerdas” tutup Pak Qomari.



Teks dan Foto: Awan SB

Berita Terbaru

Kirim Pesan Ke Humas

Nama

Email

Pesan

Alamat Kampus

Universitas Ibnu Chaldun - Jl.Pemuda I Kav.97, Rawamangun, Jakarta Timur - 13220, PO Box 1224

Kontak Humas

E-Mail: humas@ibnuchaldun.ac.id
Telp: (021)-4722059, Fax: (021)-4702563
SMS & Call Center: (021) 978 42 123
BBM Humas: 326C475C

Lihat Peta Kampus