Universitas Ibnu Chaldun

Evaluasi Krisis Kedelai

Lima Langkah Atasi Krisis Tempe - Stop Impor Kedelai

 


Indonesia sebagai negara agraris dengan jumlah Sarjana Ekonomi dan Pertanian cukup banyak,bukan menjadi jaminan bebas rawan pangan. Hal ini diperparah dengan kebijakan ekonomi pertanian yang masih abu-abu dan cenderung memihak pada pangan impor.

Kebijakan jangka pendek pemerintah yang menghapuskan bea masuk (impor) Kedelaiuntuk mengatasi kelangkaan bahan baku pembuatan Tahu dan Tempe. Justru, hal itu tidak mampu menyelesaikan persoalan. Akhirnya ledakan  “krisis tempe” yang terjadi beberapa bulan lalu, terjadi lagi.Seperti jatuh di lobang yang sama, krisis makanan rakyat ini merupakan pengulangan dari krisis serupa pada Januari 2008.

Adanya kenaikan harga Kedelai memaksa produsen Tahu/Tempe harus menghentikan produksinya. Penyebab kenaikan harga Kedelai ini karena adanya anomali cuaca (kekeringan) di Amerika Serikat sehingga menurunkan  hasil produksi pertanian Kedelainya. Padahal impor Kedelai Indonesia sebagian besar berasal dari Amerika Serikat.

Bola salju pun terjadi, krisis di sana berdampak di Indonesia yang notabene kaya akan kekayaan alamnya. Harga kedelai impormerangkak naik dari US$513/ton atau Rp.6.536/kg pada Februari 2011 menjadi US$622/ton atau Rp.8.345/kg pada Juli 2012.

Seperti diketahui konsumsi Kedelai nasional mencapai 2,6 juta ton per tahun. Sedangkan hasil produksi nasional hanya mencapai600.000 ton per tahun. Dengan demikian berarti Indonesia memerlukan impor kedelai sebesar 2 juta ton per tahunnya.

Data menunjukkan, pada 2011 impor terbesar dari Amerika Serikat yang mencapai 1.847.900 ton. Kemudian dari Malaysia sebesar 120.074 ton, Argentina 73.037 ton, Uruguay 16.825 ton dan Brazil 13.550 ton. Total impor tahun 2011 sebesar 2.071.386 ton.

Masyarakat Indonesia yang terkenal konsumtifnya terlihat jelas dari data sebagai berikut: Dari seluruh kebutuhan Kedelai nasional, yang dipergunakan untuk produsen Tahu/Tempe sekitar  83,7 %, Industri Kecap, Tauco, dan lainnyamencapai 14,7 %, Benih 1,2 % dan untuk Pakan Ternak 0,4 %.Hebatnya, Indonesia yang disebut-sebut negara agraris hanya menggunakan kurang dari 2% untuk benih!

Melihat dari data-data di atas, untuk dapat meningkatkan produksi Kedelai Nasional, perlu ditempuh langkah-langkah sebagai berikut:

1)    Penyediaan benih Kedelai varietas unggul dengan tingkat produktivitas 2,5 s/d 3,9 ton per hektar.

2)    Meningkatkan tingkat pengetahuan petani Kedelai. Yaitu, dengan mengaktifkan lembaga pendidikan yang berbasis pertanian untuk memberikan bimbingan dan riset pemanfaatan teknologi pertanian. Hal ini penting, mengingat selama ini pengelolaan lahan pertanian dilakukan secara konvensional karena, rata-rata tingkat pendidikan petani kita belum memadai.

3)    Pemerintah harus tegas melindungi lahan pertanian yang sering menjadi korban konversi menjadi lahan komersial. Sebagai catatan, seluas 100.000 hektar lahan pertanian kita hilang setiap tahunnya. Bukan hanya itui, tingkat kesuburannyapun mencemaskan dan 75% merupakan lahan kritis. Selain itu, menurut data BPS, kepemilikan lahan petani kita saat ini rata-rata hanya 0,2 hektar.

4)    Perbaikan sarana dan prasarana pengairan. Saat ini pembangunan infrastruktur seperti irigasi dan bendungan biar tidak dalam keadaan stagnan. Hal itu mengacu pada penurunan kualitas infrastruktur, seperti irigasi yang rusak mencapai 52% dengan perincian rusak berat 10%, rusak sedang 26% dan rusak ringan 16%.

5)    Kesamaan motivasi dan orientasi serta urgensi dari seluruh stakeholder Perkedelaian yang menimbulkan energi gerak. Inilah yang melahirkan sinergisasi dan koordinasi dalam kebijakan serta komitmen semua pihak untuk menghadirkan ketahanan dan kemajuan produksi kedelai di Indonesia.                                

Apabila kelima langkah diatas dapat dilaksanakan, maka diharapkan Indonesia dapat memenuhi kebutuhan Kedelainya sendiri (tanpa impor) bahkan  dapat mengekspornya. Semogabermanfaat bagi peningkatan ketahanan pangan dan  pengembangan perekonomian Indonesia.






Oleh : HASAN MAS’UD, SE.MM.
Dosen Fakultas Ekonomi UIC Jakarta

Editor: Awan Ibnu Chaldun

Berita Terbaru

Kirim Pesan Ke Humas

Nama

Email

Pesan

Alamat Kampus

Universitas Ibnu Chaldun - Jl.Pemuda I Kav.97, Rawamangun, Jakarta Timur - 13220, PO Box 1224

Kontak Humas

E-Mail: humas@ibnuchaldun.ac.id
Telp: (021)-4722059, Fax: (021)-4702563
SMS & Call Center: (021) 978 42 123
BBM Humas: 326C475C

Lihat Peta Kampus