Universitas Ibnu Chaldun

Berpengalaman Selama Setengah Abad dan Reputasi yang Bersih

Wajahnya mungkin tak lagi muda, kerut-kerut di dahinya semakin menggambarkan bahwa kini bukan eranya lagi bicara lantang tentang idealisme. Dialah Pak Muchtar (64). Pengabdiannya di Universitas Ibnu Chaldun-Jakarta selama puluhan tahun itu, merupakan jawaban kesetiaannya terhadap perguruan tinggi swasta tertua di Jakarta ini.



Pak Muchtar bukan hanya asal setia saja dengan pekerjaannya sebagai staf BAAK (Biro Administrasi Akademik dan Kemahasiswaan). Ia punya alasan prinsipal yang menjadikannya bertahan bekerja di UIC Jakarta dari tahun 1966 hingga sekarang. “Saya melihat kampus ini adalah kampus Islam. Saya sudah menghabiskan banyak hal untuk mempertahankan kampus ini sesuai dengan pekerjaan saya. Ini semua saya lakukan untuk keberlangsungan hingga kejayaan kampus Islam ini” jelasnya.

Selain itu, perjuangan yang terus dilakukan Pak Muchtar patut mendapat apresiasi dari generasi muda. Bagaimana tidak? Di usianya yang tidak lagi muda, beliau masih gigih berangkat ke kampus yang beralamat di Jalan Pemuda-Rawamangun ini, dari tempat tinggalnya di Depok.”Tak perlulah apresiasi atau apalah itu namanya. Yang penting bagi saya, nama besar UIC Jakarta harus tetap dipertahankan bahkan harus semakin maju dari tahun-tahun sebelumnya. Saya ingin melihat kemajuan UIC Jakarta seperti dahulu kala saat tahun 80-an. Sebelum saya menghadap kehadirat Allah SWT” jelas Pak. Muchtar sambil berkaca-kaca, sebagai bukti keinginannya itu kuat dan terpatri di dalam hatinya yang paling dalam.

Keinginan Pak Muchtar itu, sejalan dengan pengalamannya selama ia bekerja di UIC Jakarta. Menurutnya, banyaknya kampus yang kini berdiri di Jakarta. Tak terlepas dari peran serta alumni UIC Jakarta yang kemudian membuat dinasti baru Perguruan Tinggi Swasta (PTS) di ibu kota. “YARSI, JAYABAYA, UNAS dan beberapa perguruan tinggi lainnya. Awalnya yang mendirikan ya lulusan dari sini (UIC-red). Saat itu tahun 1970-1980-an belum banyak perguruan tinggi swasta yang ada di Jakarta” jelas Pak Muchtar dengan semangat

Berpengalaman dan Reputasi yang Bersih

Sekedar catatan. UIC Jakarta berdiri pada 11 Juni 1956. Dulu saat belum menetap di Jalan Pemuda-Rawamangun. Kegiatan belajar mengajar UIC Jakarta dilaksanakan di Senen dan di sebagian gedung yang kini digunakan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia-Salemba dan beberapa tempat lain. Maklum saat itu jumlah mahasiswa UIC Jakarta mencapai ribuan orang. Bahkan menurut cerita dari Pak Muchtar, untuk memberi pelajaran kepada mahasiswa harus dilakukan dengan pengeras suara. Mengingat jumlah mahasiswa UIC Jakarta pada saat itu sangat banyak sekali.

“Saat itu (sekitar tahun 1970-1980 an) jumlah mahasiswa UIC Jakarta sangat banyak. Tugas saya yang pada saat itu sebagai juru ketik, sampai kewalahan melayani ribuan mahasiswa” kenangnya.

Kini, mungkin UIC Jakarta tidak sejaya yang dulu dengan puluhan mahasiwa yang membanjiri kelas-kelas perkuliahan. Hal ini berkaitan dengan banyak faktor,  salah satunya semakin menjamurnya perguruan tinggi di Jakarta. Tapi hal itu tidak membuat UIC Jakarta kalah bersaing dengan PTS lainnya. “Dengan semangat perubahan, ditunjang pengalaman mengabdi selama lebih dari setengah abad. Saya yakin UIC Jakarta akan kembali jaya dan menemukan ritmenya untuk sejajar dengan PTS favorit lainnya” jelasnya.

“Saya mengatakan hal ini bukan tanpa dasar. Selama ini kita (UIC-red) termasuk salah satu PTS yang reputasinya terbilang bersih dari istilah Ijazah palsu atau pemalsuan ijazah. Inilah salah satu modal UIC Jakarta kembali berjaya” tutup pak Muchtar.



Muchtar - Staff BAAK

Berita Terbaru

Kirim Pesan Ke Humas

Nama

Email

Pesan

Alamat Kampus

Universitas Ibnu Chaldun - Jl.Pemuda I Kav.97, Rawamangun, Jakarta Timur - 13220, PO Box 1224

Kontak Humas

E-Mail: humas@ibnuchaldun.ac.id
Telp: (021)-4722059, Fax: (021)-4702563
SMS & Call Center: (021) 978 42 123
BBM Humas: 326C475C

Lihat Peta Kampus